Pages

Tuesday, June 4, 2013

JURASSIC PARK 3D

By : Daniel Effendie

Directed By: Steven Spielberg
Cast: Sam Neill, Laura Dern, Jeff Goldblum, Richard Attenborough, Bob Peck, Martin Ferrero, Joseph Mazzello, Ariana Richards, Samuel L. Jackson, BD Wong, Wayne Knight
Synopsis:
Akibat sebuah kecelakaan yang menewaskan seorang karyawan, seorang milyuner mau tidak mau harus mengundang 3 ilmuwan yang ahli di bidangnya masing- masing untuk menyetujui taman rekreasi yang sedang dibuatnya. Namun tur yang tadinya diharapkan akan berjalan lancar mendadak menjadi sebuah bencana ketika “para bintang” taman rekreasi tersebut keluar dari kandangnya masing- masing dan menyerang para tamu untuk dijadikan santapannya.
Review:


Tidak banyak sebuah film yang bisa memberikan evolusi dan pengaruh bukan hanya di industri perfilman itu sendiri, namun juga kehidupan realita di luarnya. Seperti halnya JFK yang membuat penyelidikan kasus pembunuhan salah satu presiden Amerika dibuka kembali, atau The Fast and The Furious yang menaikkan trend modifikasi mobil, Jurassic Park pada jamannya juga membuat meningkatnya dunia perkloningan serta minat atas semua hal berbau dinosaurus. Bahkan jurusan paleontologi mengalami peningkatan dalam jumlah pendaftaran pada saat itu. Selain juga yang pasti breakthrough dalam hal spesial efek dan industri perfilman itu sendiri. Salah satunya adalah penggambaran velociraptor yang salah. Para ahli mendeskripsikan tinggi salah satu dinosaurus terganas itu hanya setinggi kurang lebih 60-70 cm saja. Sementara untuk lebih terlihat seram, Spielberg merubah gambarannya menjadi setinggi 1,6 meter. Tinggi yang sebenarnya dimiliki oleh “saudara dekat” velociraptor, Deinonychus. Namun gambaran salah tersebut yang malah diketahui masyarakat.
Pada jamannya, film yang sudah dikategorikan sebagai klasik ini, mendapatkan respond yang positif. Tidak terkecuali di negara kita sendiri. Saya masih ingat 20 tahun lalu saya antri panjang untuk mendapatkan tiket bersama Almarhum ayah saya demi menyaksikan dinosaurus di bioskop.
Keindahan hasil kerja Stan Winston dan tim dari Industrial Light and Magic (ILM) membuat film ini cukup bagus. Ditambah jajaran cast yang mampu berakting natural serta storytelling Spielberg yang cukup apik membuat film ini masuk ke dalam salah satu franchise terbaik sepanjang sejarah perfilman. Terlepas dari 2 sekuel yang memiliki kualitas di bawah, Jurassic Park memiliki fanbase tersendiri yang cukup kuat. Sayang, dengan meninggalnya sang kreator, Michael Crichton di tahun 2008 sekuel ketiganya mengalami penundaan. Namun pada tahun 2012 lalu, sekuel tersebut akan kembali dibuat dengan jadwal rilis 2014 dan rencanannya akan dilanjutkan dengan seri kelima dan keenam.


Mengikuti trend 3D yang sedang naik daun, para studio besar berlomba- lomba mengkonversi film- film klasik handalannya ke tampilan 3D untuk dapat disaksikan kembali di bioskop. Studio yang paling terkenal melakukan hal ini adalah Walt Disney. Film- film lainnya yang mendapatkan perlakuan sama di antaranya adalah Titanic, Star Wars Episode I- The Phantom Menace, dan Battle Royale. Mungkin di Indonesia sendiri hal ini tidak begitu menarik. Karena pada dasarnya film ini sudah puluhan kali ditayangkan di TV dan Home Videonya pun sudah rilis dalam berbagai versi dan format. Kebanyakan masih kurang menghargai cinematic experience yang didapatkan dari menyaksikan sebuah film di bioskop. Banyak yang masih menganggap “yang penting gue udah nonton.”
Lalu apa yang dijual dari film ini kalau begitu? Nilai nostalgia dan konversi 3D yang lumayan bagus. Bahkan menurut saya dibandingkan film- film konversi lainnya, Jurassic Park bisa dikatakan yang paling bagus. Steven Spielberg benar- benar tidak main- main dalam mengkonversinya. Saya cukup terpukau dengan kedalaman gambar yang dihasilkan. Layer- layer cukup terlihat jelas. Namun sayang, mungkin karena disyut jaman dulu, sehingga tidak ada adegan yang sengaja dibuat untuk mendukung efek pop-up nya. Ya mungkin ada satu adegan yang terasa saat raptor berusaha menerkam ke saluran udara.


Saya sangat merekomendasikan untuk menonton film ini dalam format 3D. Bagi kita yang berusia di atas 30 tahun bisa bernostalgia, dan bagi yang belum lahir saat film ini dirilis dulu, bisa mendapatkan pengalaman yang tidak bisa didapatkan dari menontonnya di TV. Plus, semua itu dinikmati dalam kemasan 3D yang superb. Saya pun berharap banyak di kemudian hari film- film klasik lainnya bisa dikonversi 3D juga. Daftar wishlist saya meliputi Indiana Jones Series, Die Hard, The Lord of The Rings Series, The Matrix Trilogy, Terminator 2: Judgment Day, Gladiator, Braveheart, dan masih banyak lagi. Dan mudah- mudahan nantinya ada teknologi yang bisa mengkonversi 3D film hitam putih. Impossible? Well, who knows?


No comments:

Post a Comment