By : Daniel Effendie
Directed By: Steven Spielberg
Cast: Sam Neill, Laura Dern, Jeff Goldblum, Richard
Attenborough, Bob Peck, Martin Ferrero, Joseph Mazzello, Ariana
Richards, Samuel L. Jackson, BD Wong, Wayne Knight
Synopsis:
Akibat sebuah kecelakaan yang menewaskan seorang karyawan, seorang
milyuner mau tidak mau harus mengundang 3 ilmuwan yang ahli di bidangnya
masing- masing untuk menyetujui taman rekreasi yang sedang dibuatnya.
Namun tur yang tadinya diharapkan akan berjalan lancar mendadak menjadi
sebuah bencana ketika “para bintang” taman rekreasi tersebut keluar dari
kandangnya masing- masing dan menyerang para tamu untuk dijadikan
santapannya.
Review:
Tidak banyak sebuah film yang bisa memberikan evolusi dan pengaruh
bukan hanya di industri perfilman itu sendiri, namun juga kehidupan
realita di luarnya. Seperti halnya JFK yang membuat penyelidikan kasus
pembunuhan salah satu presiden Amerika dibuka kembali, atau The Fast and
The Furious yang menaikkan trend modifikasi mobil, Jurassic Park pada
jamannya juga membuat meningkatnya dunia perkloningan serta minat atas
semua hal berbau dinosaurus. Bahkan jurusan paleontologi mengalami
peningkatan dalam jumlah pendaftaran pada saat itu. Selain juga yang
pasti breakthrough dalam hal spesial efek dan industri perfilman itu
sendiri. Salah satunya adalah penggambaran velociraptor yang salah. Para
ahli mendeskripsikan tinggi salah satu dinosaurus terganas itu hanya
setinggi kurang lebih 60-70 cm saja. Sementara untuk lebih terlihat
seram, Spielberg merubah gambarannya menjadi setinggi 1,6 meter. Tinggi
yang sebenarnya dimiliki oleh “saudara dekat” velociraptor, Deinonychus.
Namun gambaran salah tersebut yang malah diketahui masyarakat.
Pada jamannya, film yang sudah dikategorikan sebagai klasik ini,
mendapatkan respond yang positif. Tidak terkecuali di negara kita
sendiri. Saya masih ingat 20 tahun lalu saya antri panjang untuk
mendapatkan tiket bersama Almarhum ayah saya demi menyaksikan dinosaurus
di bioskop.
Keindahan hasil kerja Stan Winston dan tim dari Industrial Light and
Magic (ILM) membuat film ini cukup bagus. Ditambah jajaran cast yang
mampu berakting natural serta storytelling Spielberg yang cukup apik
membuat film ini masuk ke dalam salah satu franchise terbaik sepanjang
sejarah perfilman. Terlepas dari 2 sekuel yang memiliki kualitas di
bawah, Jurassic Park memiliki fanbase tersendiri yang cukup kuat.
Sayang, dengan meninggalnya sang kreator, Michael Crichton di tahun 2008
sekuel ketiganya mengalami penundaan. Namun pada tahun 2012 lalu,
sekuel tersebut akan kembali dibuat dengan jadwal rilis 2014 dan
rencanannya akan dilanjutkan dengan seri kelima dan keenam.
Mengikuti trend 3D yang sedang naik daun, para studio besar berlomba-
lomba mengkonversi film- film klasik handalannya ke tampilan 3D untuk
dapat disaksikan kembali di bioskop. Studio yang paling terkenal
melakukan hal ini adalah Walt Disney. Film- film lainnya yang
mendapatkan perlakuan sama di antaranya adalah Titanic, Star Wars
Episode I- The Phantom Menace, dan Battle Royale. Mungkin di Indonesia
sendiri hal ini tidak begitu menarik. Karena pada dasarnya film ini
sudah puluhan kali ditayangkan di TV dan Home Videonya pun sudah rilis
dalam berbagai versi dan format. Kebanyakan masih kurang menghargai
cinematic experience yang didapatkan dari menyaksikan sebuah film di
bioskop. Banyak yang masih menganggap “yang penting gue udah nonton.”
Lalu apa yang dijual dari film ini kalau begitu? Nilai nostalgia dan
konversi 3D yang lumayan bagus. Bahkan menurut saya dibandingkan film-
film konversi lainnya, Jurassic Park bisa dikatakan yang paling bagus.
Steven Spielberg benar- benar tidak main- main dalam mengkonversinya.
Saya cukup terpukau dengan kedalaman gambar yang dihasilkan. Layer-
layer cukup terlihat jelas. Namun sayang, mungkin karena disyut jaman
dulu, sehingga tidak ada adegan yang sengaja dibuat untuk mendukung efek
pop-up nya. Ya mungkin ada satu adegan yang terasa saat raptor berusaha
menerkam ke saluran udara.
Saya sangat merekomendasikan untuk menonton film ini dalam format 3D.
Bagi kita yang berusia di atas 30 tahun bisa bernostalgia, dan bagi yang
belum lahir saat film ini dirilis dulu, bisa mendapatkan pengalaman
yang tidak bisa didapatkan dari menontonnya di TV. Plus, semua itu
dinikmati dalam kemasan 3D yang superb. Saya pun berharap banyak di
kemudian hari film- film klasik lainnya bisa dikonversi 3D juga. Daftar
wishlist saya meliputi Indiana Jones Series, Die Hard, The Lord of The
Rings Series, The Matrix Trilogy, Terminator 2: Judgment Day, Gladiator,
Braveheart, dan masih banyak lagi. Dan mudah- mudahan nantinya ada
teknologi yang bisa mengkonversi 3D film hitam putih. Impossible? Well,
who knows?




No comments:
Post a Comment