Pages

Tuesday, June 4, 2013

THE GREAT GATSBY

By : Daniel Effendie

Directed By: Baz Luhrman
Cast: Leonardo DiCaprio, Tobey Maguire, Carrey Mulligan, Joel Edgerton, Ishla Fisher, Elizabeth Debicki, Amitabh Bachan, Jason Clarke
Synopsis:
Nick Carraway adalah seorang pemuda yang ingin masuk ke dunia gemerlap kalangan atas di tahun 1920an. Dia iri dengan kehidupan sepupunya, Daisy Buchanan, yang bersuamikan Tom Buchanan, salah satu pewaris keluarga terkaya di jamannya. Perjalanan Nick membawanya bertemu dengan seorang kaya misterius bernama Jay Gatsby yang hidup menyendiri di rumahnya. Namun setiap weekend, Gatsby selalu mengadakan pesta besar yang didatangi hampir seluruh penduduk New York. Belakangan Nick baru menyadari siapa sebenarnya Gatsby dan apa hubungannya dengan sepupunya, Daisy.
Review:


Dalam dunia literatur Amerika dikenal beberapa karya yang dikenal dengan sebutan The Great American Novel. Yaitu novel- novel yang dianggap sangat detil dan mendekatai kenyataan dalam menggambarkan isu, gaya hidup, serta aspek- aspek sosial pada jamannya. Di antaranya adalah sebuah masterpiece karya F. Scott Fitzgerald yang sudah berulang kali diangkat ke layar perak maupun TV. The Great Gatsby sangat detil dalam menggambarkan era yang disebut The Roaring Twenties. The Roaring Twenties adalah era di mana budaya, sosial, politik, dan aspek- aspek masyarakat lainnya memiliki perbedaan dengan masa yang lain. Masa tersebut ditandai dengan frekuensi penggunaan Art Deco yang tinggi, lahirnya musik Jazz, isu perang dunia I, boomingnya penggunaan mobil, pesawat, film, serta telepon, dan pemberitaan media yang selalu menitikberatkan pada kaum selebritis.
Kini untuk kesekian kalinya kisah tersebut diangkat ke layar lebar oleh sutradara yang melahirkan trend modernisasi karya Shakespeare, Baz Luhrman. Hanya melihat nama juru kemudinya saja, kita sudah yakin bahwa film ini akan dipenuhi dengan permainan visual apik dengan tata cahaya yang bagus. Seperti yang pernah dilakukannya melalui film- filmnya terdahulu, di antaranya Romeo+Juliet, Moulin Rouge, dan Australia. Film ini pun sama dengan trademark film- filmnya yang lain. Mengangkat tema kisah cinta yang dibaluit tata gambar yang memanjakan mata. Namun sayang saya tidak menontonnya dalam format 3D jadi tidak bisa menilai hasil akhirnya. Namun dari pantauan forat 2D, banyak adegan- adegan yang sepertinya diperuntukkan untuk format 3D. Seperti butiran salju, ilustrasi tulisan, dan lain- lain. Dan sangat disayangkan Indonesia hanya mendapatkan jatah sedikit untuk format 3Dnya.


Tim set dekorasi serta DoP telah bekerja dengan baik. Kita dimanjakan dengan penggambaran kawasan East Egg dan West Egg yang berbeda jauh dengan kawasan pertambangan batu bara. Suatu gambaran yang cukup baik dalam menggambarkan kesenjangan sosial yang cukup tinggi di kala itu.
Penggambaran kaum sosialitas tinggi dengan kebiasaan party ala Snoop Dogg dan P.Diddy cukup dilakukan dengan baik. Penggabungan nuansa tempoe doeloe dengan musik- musik masa kini cukup terasa kontras dan tidak terasa aneh. Satu hal yang patut diacungi jempol.
Dari departemen casting, hampir keseluruh pemeran utama berhasil membawakan perannya dengan baik. Khususnya DiCaprio, Maguire, dan Edgerton. DiCaprio sekali lagi mampu memberikan performa yang apik. Ekspresi wajah hopeless mampu bertransformasi dengan baik menjadi sosok yang penuh glamor. Maguire bermain cukup baik. Di samping gerakan bibirnya yang terbatas (yang selalu mengganjal bagi saya untuk dilihat), Maguire mampu menghidupkan karakter seorang pemuda naif yang ingin merasakan keglamoran kaum sosialita. Edgerton, yang karirnya semakin menanjak pasca Warrior, telah menunjukkan kemampuan aktingya yang terasa makin hari makin meningkat. Dia bisa membawakan peran seorang typical playboy kalangan yang egois atas ala Bruce Wayne. Fisher bermain cukup baik dengan gesture tubuh yang bagus. Clarke tampil dengan karakter stereotype nya sebagai seorang emosional yang akrab dengan kekerasan. Namun sayang, sebagai pemeran utama, Mulligan, bermain biasa- biasa saja. Seakan kurang mampu menyaingi performa 3 karakter pria utamanya. Yang cukup menarik perhatian adalah aktor senior Bollywood, Amitabh Bachan, yang mendapatkan peran yang cukup menarik perhatian.


Dari segi cerita sih sudah tidak perlu dibahas lagi. Kisah romantis tragis ini cukup baik untuk disimak. Hanya saja di beberapa adegan terasa terlalu garing dan boring. Penggambaran kisah tragis cukup baik di endingnya. Bagaimana seseorang hanya dipandang melalui uang saja dan tidak ada yang perduli di saat susah, kecuali sahabat setia.
Yang cukup mengganjal adalah jadwal rilisnya. Entah mengapa, saya merasa bulan Mei bukanlah bulan yang tepat untuk merilis film semacam ini. Dengan jajaran cast bagus, akting apik, skenario oke, serta dialog- dialog dan narasi cerdas dan bermutu, seharusnya film semacam ini dirilis sekitar bulan November atau Desember. Bulan di mana production house berlomba- lomba mengeluarkan jagoannya untuk dilirik juri Oscar. Memang pada awalnya film ini akan dirilis akhir tahun lalu, namun karena satu dan lain hal dimundurkan menjadi bulan Mei. Mungkin produser takut dengan kutukan film yang dimundurkan terlalu lama.
Akhir kata, film ini cukuplah untuk dijadikan selingan di antara pameran spesial efek serta action penuh ledakan yang akan mengiringi musim panas ini. Apalagi bagi anda yang menyukai adaptasi literatur klasik serta film berkualitas Oscar.

No comments:

Post a Comment