By : Daniel Effendie
Directed By: Baz Luhrman
Cast: Leonardo DiCaprio, Tobey Maguire, Carrey Mulligan, Joel Edgerton, Ishla Fisher, Elizabeth Debicki, Amitabh Bachan, Jason Clarke
Synopsis:
Nick Carraway adalah seorang pemuda yang ingin masuk
ke dunia gemerlap kalangan atas di tahun 1920an. Dia iri dengan
kehidupan sepupunya, Daisy Buchanan, yang bersuamikan Tom Buchanan,
salah satu pewaris keluarga terkaya di jamannya. Perjalanan Nick
membawanya bertemu dengan seorang kaya misterius bernama Jay Gatsby yang
hidup menyendiri di rumahnya. Namun setiap weekend, Gatsby selalu
mengadakan pesta besar yang didatangi hampir seluruh penduduk New York.
Belakangan Nick baru menyadari siapa sebenarnya Gatsby dan apa
hubungannya dengan sepupunya, Daisy.
Review:
Dalam dunia literatur Amerika dikenal beberapa karya yang dikenal dengan sebutan The Great American Novel. Yaitu novel- novel yang dianggap sangat detil dan mendekatai kenyataan dalam menggambarkan isu, gaya hidup, serta aspek- aspek sosial pada jamannya. Di antaranya adalah sebuah masterpiece karya F. Scott Fitzgerald yang sudah berulang kali diangkat ke layar perak maupun TV. The Great Gatsby sangat detil dalam menggambarkan era yang disebut The Roaring Twenties. The Roaring Twenties adalah era di mana budaya, sosial, politik, dan aspek- aspek masyarakat lainnya memiliki perbedaan dengan masa yang lain. Masa tersebut ditandai dengan frekuensi penggunaan Art Deco yang tinggi, lahirnya musik Jazz, isu perang dunia I, boomingnya penggunaan mobil, pesawat, film, serta telepon, dan pemberitaan media yang selalu menitikberatkan pada kaum selebritis.
Kini untuk kesekian kalinya kisah tersebut diangkat ke layar lebar
oleh sutradara yang melahirkan trend modernisasi karya Shakespeare, Baz
Luhrman. Hanya melihat nama juru kemudinya saja, kita sudah yakin bahwa
film ini akan dipenuhi dengan permainan visual apik dengan tata cahaya
yang bagus. Seperti yang pernah dilakukannya melalui film- filmnya
terdahulu, di antaranya Romeo+Juliet, Moulin Rouge, dan Australia. Film
ini pun sama dengan trademark film- filmnya yang lain. Mengangkat tema
kisah cinta yang dibaluit tata gambar yang memanjakan mata. Namun sayang
saya tidak menontonnya dalam format 3D jadi tidak bisa menilai hasil
akhirnya. Namun dari pantauan forat 2D, banyak adegan- adegan yang
sepertinya diperuntukkan untuk format 3D. Seperti butiran salju,
ilustrasi tulisan, dan lain- lain. Dan sangat disayangkan Indonesia
hanya mendapatkan jatah sedikit untuk format 3Dnya.
Tim set dekorasi serta DoP telah bekerja dengan baik. Kita dimanjakan dengan penggambaran kawasan East Egg dan West Egg yang berbeda jauh dengan kawasan pertambangan batu bara. Suatu gambaran yang cukup baik dalam menggambarkan kesenjangan sosial yang cukup tinggi di kala itu.
Penggambaran kaum sosialitas tinggi dengan kebiasaan party ala Snoop
Dogg dan P.Diddy cukup dilakukan dengan baik. Penggabungan nuansa tempoe
doeloe dengan musik- musik masa kini cukup terasa kontras dan tidak
terasa aneh. Satu hal yang patut diacungi jempol.
Dari departemen casting, hampir keseluruh pemeran utama berhasil
membawakan perannya dengan baik. Khususnya DiCaprio, Maguire, dan
Edgerton. DiCaprio sekali lagi mampu memberikan performa yang apik.
Ekspresi wajah hopeless mampu bertransformasi dengan baik menjadi sosok
yang penuh glamor. Maguire bermain cukup baik. Di samping gerakan
bibirnya yang terbatas (yang selalu mengganjal bagi saya untuk dilihat),
Maguire mampu menghidupkan karakter seorang pemuda naif yang ingin
merasakan keglamoran kaum sosialita. Edgerton, yang karirnya semakin
menanjak pasca Warrior, telah menunjukkan kemampuan aktingya yang terasa
makin hari makin meningkat. Dia bisa membawakan peran seorang typical
playboy kalangan yang egois atas ala Bruce Wayne. Fisher bermain cukup
baik dengan gesture tubuh yang bagus. Clarke tampil dengan karakter
stereotype nya sebagai seorang emosional yang akrab dengan kekerasan.
Namun sayang, sebagai pemeran utama, Mulligan, bermain biasa- biasa
saja. Seakan kurang mampu menyaingi performa 3 karakter pria utamanya.
Yang cukup menarik perhatian adalah aktor senior Bollywood, Amitabh
Bachan, yang mendapatkan peran yang cukup menarik perhatian.
Dari segi cerita sih sudah tidak perlu dibahas lagi. Kisah romantis
tragis ini cukup baik untuk disimak. Hanya saja di beberapa adegan
terasa terlalu garing dan boring. Penggambaran kisah tragis cukup baik
di endingnya. Bagaimana seseorang hanya dipandang melalui uang saja dan
tidak ada yang perduli di saat susah, kecuali sahabat setia.
Yang cukup mengganjal adalah jadwal rilisnya. Entah mengapa, saya
merasa bulan Mei bukanlah bulan yang tepat untuk merilis film semacam
ini. Dengan jajaran cast bagus, akting apik, skenario oke, serta dialog-
dialog dan narasi cerdas dan bermutu, seharusnya film semacam ini
dirilis sekitar bulan November atau Desember. Bulan di mana production
house berlomba- lomba mengeluarkan jagoannya untuk dilirik juri Oscar.
Memang pada awalnya film ini akan dirilis akhir tahun lalu, namun karena
satu dan lain hal dimundurkan menjadi bulan Mei. Mungkin produser takut
dengan kutukan film yang dimundurkan terlalu lama.
Akhir kata, film ini cukuplah untuk dijadikan selingan di antara
pameran spesial efek serta action penuh ledakan yang akan mengiringi
musim panas ini. Apalagi bagi anda yang menyukai adaptasi literatur
klasik serta film berkualitas Oscar.




No comments:
Post a Comment